Thursday, December 13

Lulusan IT banyak yang mengecewakan, tanggapan dari employer

Thanks to rekan agus yang memberitahu link tentang berita “lulusan IT banyak yang mengecewakan”.

berikut ini linknya:link1 link2 link3

saya posting beberapa komentar dari rekan2 yang telah bekerja di perusahaan dan punya andil dalam proses rekruitment:

1. Rizky Prihanto (company point of view)

spesifikasi untuk rekruitmen berlebihan, salary pas2an

berlebih? spesifikasi yang standar aja banyak yang nggak bisa dipenuhi. manajemen sih biasanya mau-mau aja mbayar salary yang memuaskan kalo skill nya sesuai. tapi kadang itu dijadikan alasan ama SDM baru, “gajinya kecil aja koq minta yang bisa ini bisa itu” — padahal mestinya kan paradigma-nya dibalik: “oh perlunya bisa ini bisa itu ya? menarik juga. gajinya berapa ya?” kebanyakan SDM yang mengeluhkan kecilnya besaran gaji untuk menutupi skill yang tidak meets requirement itu — kalo meminjam istilah Bung Endy sih itu namanya: “can’t do attitude”. Sayangnya, memang banyak bangedd yang seperti ini.

*dua minggu ini gw lagi rekruitment Database Programmer, susahnya naujubille. Query join 2 tabel aja nggak ngerti — padahal gw nggak ngebatasin harus pake klausa JOIN. Kalo nggak ngerti pake JOIN, cukup lah composite-kan tabel trus di-filter berdasarkan kesamaan keys antar tabel. Tambah bingung 😀
ironisnya, 4 dari 5 kandidat yang gw test itu adalah asisten laboratorium untuk praktikum database.
Innalillahi…

2. ilham rizki sasmita (company point of view)

Saya juga ngalamin, mas. Waktu rekrut programmer tahun lalu, liat CV bagus, pas ditest suruh JOIN 2 tabel ternyata gak bisa. Itu di sekolahnya ngapain aja ya?
Jangan lupa, sekarang skripsi bisa dibeli di internet dengan harga murah. Pastikan test codingnya cukup ampuh untuk menyeleksi. Buka juga untuk programmer non Teknik Informatika, biasanya kalau orang non Teknik Informatika belajarnya lebih serius dan langsung berhadapan dengan real world problem di bidangnya. Biasanya lho ya…

3. ifnu bima (company point of view)

> 1. Sebenarnya apa saja yang diinginkan perusahaan dari para lulusan IT ?

Simple thing, bikin CRUD berdasarkan standard framework yang dipake di industri, Misalnya kalau di java ya pake hibernate + spring atau yang simple JSP dan Servlet + JDBC. Dari sini frashgrad harus mengerti :
1. bikin html secara manual (misalnya bikin table manual diketik ga pake dreamweaver, <tr> dan <td> hafal diluar kepala)
2. bikin query (create update delete, select + where + join)
3. Membuat table (create table) atau pake visual designer juga boleh
4. Mengerti konsep OOP, setidaknya tau apa itu class dan apa itu object
5. Mengerti konsep HTTP protocol, apa itu GET dan POST
6. Mengerti konsep html form (checkbox, textfield), syukur2 mengerti javascript
7. Mengerti konsep JDBC
8. Mengerti apa itu application server (tomcat)
Nah listnya bisa bertambah panjang hanya untuk bisa membuat hal-hal mendasar saja loh.

> 2. Sampai Level apa perusahan menentukan seseorang di anggap layak untuk menerima tanggung jawab atas perkerjaan yang akan diberikan ?
pertanyaan pertama :
1. Tau tentang html? kalau tau coba buat table dengan 3 kolom dan 5 baris di papan tulis. (kalau ga bisa yaaa… )
2. Tau sql? nah misalnya kalau saya punya table barang dan kategori barang, trus saya mau menampilkan data barang + kategorinya, coba anda bikin querynya.
Ok cukup 2 hal simple ini aja deh, kalau ga bisa ya…. ada perusahaan yang mau menerima dengan syarat dan ada pula yang kandidatnya suruh pulang dulu dan belajar yang banyak 😀

4. endy muhardin (company point of view)

> saya setuju..malah sangat mengecewakan kalo dibenchmark dengan standart industri yang ada.berapa sih lulusan IT yang siap pakai setiap kali wisuda? aku yakin gak sampai 15%. tetapi aku yakin sebenarnya mereka punya “potensi besar”.

Potensi tanpa kerja keras tidak ada gunanya.
Konon, Mozart si jenius musik sudah teridentifikasi kejeniusannya di usia 4 tahun.
Tapi butuh waktu 18 tahun sampai dia menghasilkan karya kelas dunia.
Nothing substitutes practices and hard work.
>
> Makanya kalo nyari tenaga IT terus di tanya J2EE,Hibernate,Spring,Maven,IoC dll. ya banyak yang gak kejaring. Cara yang tepat adalah melihat potensi mereka untuk mempelajarinya.rekrutlah mereka, kasih training yang bagus.lalu lihatlah apa yang terjadi!
>
Sebenarnya kalo para mahasiswa itu menggunakan umurnya (selama kuliah) untuk bikin aplikasi, whatever aplikasi it is, dalam waktu 4 tahun (asumsi S1) akan lulus dengan kemampuan yang memadai. Tapi sayangnya banyak yang menghabiskan umurnya dengan dugem, gaul, pacaran, dan kegiatan lain yang tidak menambah added value.

Kasi training dan lihat apa yang terjadi?

Well … saya ngeliatnya gini.
Ada lulusan SMK RPL, gak bisa coding, belum pernah bikin aplikasi satupun even sekelas address book, dan gak juga paham konsep dasar. Ada lulusan S1, gak bisa coding, belum pernah bikin aplikasi satupun even sekelas address book, dan gak juga paham konsep dasar.
Yang SMK bisa dibayar UMR + Beasiswa kuliah
Yang S1 minta at least 3 juta.
Effort di perusahaan, sama2 ngasi training.
Pilih mana?

5. asyraf mursalina (company point of view)
Sekedar share buat adik-adik khususnya. Kebetulan satu tahun ini saya terjun langsung soal “merekrut tenaga IT”. And it is really a long and exhausting journey. Ratusan lamaran, puluhan kandidat. Sampai saat ini kami hanya mendapat 3 tenaga IT yang kami anggap handal. 2 lainnya diterima kemudian diberi job mengurusi administrasi dan dokumentasi pekerjaan di div. IT. Selama rekrutmen, kami tutup mata soal IP, buat kami yang penting skill. Tapi pengalaman empiris memang membuktikan, mostly IP berbanding lurus dengan skill dan benar sekali… kalaupun ada yg skill nya tidak seperti yang diharapkan, tapi kalau IP nya bagus… orang nya lebih mudah di didik. Menyadari rata2 kandidat yang kami uji memiliki gelar S.KOM atau ST yang kental sekali IT nya, sungguh mengecewakan ketika kami test, bahkan dengan soal semudah yang saya posting di forum beberapa waktu lalu, banyak sekali yang bahkan menulis satu baris query saja tidak mampu. Buat adik-adik yang akan terjun ke dunia kerja, mungkin pengalaman saya ini bsa dijadikan pelajaran berharga.

lanjutan: perusahan yang minta superman atau pelamar yang kurang skill?

71 Comments

  • Ah, coba lima orang di atas saya uji, mungkin gelagepan juga. Sekarang dibalik saja, company point of view itu perush apa? Maaf, saya mungkin kurang gaul jadi gak ngeh. Wajar bila perush antah berantah, didatangi orang2 dari antah berantah juga.

    Itu juga tantangan lima orang di atas, bagaimana agar tenaga kerja berkualitas mau ikut dalam rekrutmen. Menyalahkan pasar memang mudah, tapi mengubahnya sangat susah. So, lebih baik koreksi ke diri sendiri.

  • @oguds: anda menulis,
    “coba lima orang di atas saya uji, mungkin gelagepan juga. Sekarang dibalik saja, company point of view itu perush apa? Maaf, saya mungkin kurang gaul jadi gak ngeh. Wajar bila perush antah berantah, didatangi orang2 dari antah berantah juga.”

    mas oguds, sebaiknya kalo nulis juga disertai references/evidence yang mendukung. sebelum menulis anda bisa tanya kesaya perihal kontak person mereka. itu link diatas sudah diupdate. anda bisa konfirmasi sendiri ke mereka. silahkan test mereka. kalo udah, boleh taruh hasilnya disini.

    tentang tulisan anda:
    “Itu juga tantangan lima orang di atas, bagaimana agar tenaga kerja berkualitas mau ikut dalam rekrutmen. Menyalahkan pasar memang mudah, tapi mengubahnya sangat susah. So, lebih baik koreksi ke diri sendiri.”

    merekrut orang berkualitas dengan gaji/fasilitas yang ditawarkan adalah sebuah tantangan. saya sebagai pengajar, melihat ini adalah hasil dari kualitas pendidikan, bukan dari industri.

  • secara administrasi lolos tetapi, secara skill wajib dites dolo dengan kebutuhan.

    biar ga mengecewakan, wajib dan fardhu ain fresh graduate itu latihan dolo lewat pengerjaan project-project. hingga matang. baru terjun di opis.

    pas kuliah kan yang dikejar pada nilai demi lolos syarat administrasi. mindset ini yang mesti diubah. kudu seimbang dengan skill-nya.

    kalau ndak mampu. jadi technopreneur saja. jadi pedagang. hehehe. time is priceless 😀

  • henruto

    Makanya bikin persyaratan jgn macem-macem, cukup yg menjurus & dengan minimal pengalaman kerja 3 thn.

    Kalo syaratnya macam-macam maka orang-orang IT yg punya skill “profesional” juga jadi males untuk apply.

    Jika siap utk mentraining new employee maka bukalah buat fresh graduate juga.

    • @henruto: bisa jadi yang buat pengumuman adalah orang yang tidak mengerti teknis, biasanya sih orang2 HRD. hehehe. bisa jadi memang butuh personel dengan kemampuan macem2, tinggal kitanya aja, apakah sesuai atau tidak dengan posisi tersebut.
      dari pengalaman pribadi, pernah lihat pengumuman bahwa dia butuh pegawai dengan pengalaman ini dan itu. ternyata setelah diteliti, dia butuh orang yang sekedar bisa aja, syukur2 kalo jago disitu.
      dalam pengumuman, dia menulis mencari orang yang bisa flash, dreamweaver, wordpress, HTML, plugin, dll. disini tidak ditulis butuh sedalam apa skill tsb, dan pada kenyataannya yang nulis itu juga ngak jago2 amat.. hehehe
      jadi, bagi para pencari kerja, jika melihat iklan lowongan yang tipenya seperti ini, kemungkinan memang ngak nyari orang yang professional.

  • Ulasan yang menarik mas
    memang begitu sih
    waktu saya magang PKL di suatu perusahaan media , sistem analis nya bilang ama saya :
    “Lakukanlah satu hal dan lakukanlah yang terbaik”
    menurutnya belajar satu bahasa pemrograman tapi mendalam lebih baik daripada banyak belajar bahasa pemrograman tapi tidak ada yang dalam
    itu yang selama ini saya terapkan

  • Ali

    Saya Setuju dengan mas oguds,,kelima orang diatas diuji mungkin glegepan juga..
    soalnya kebanyakan programer copas,comot sana comot sini dari mbah google trus digabungin scriptnya…

  • Salam kenal pak Achmad. Saya lihat paradigma yang digunakan adalah bahwa sarjana S1 = siap pakai. Ada perbedaan sedikit bahwa beberapa universitas memakai paradigma sarjana S1 = siap latih, berbeda dengan SMK atau Diploma yang siap pakai.

  • gk semua programmer hapal coding,kalau saya lebih prefer memberikan soal logika di banding suruh hard code test menggunakan kertas.

  • ardhi

    Dari pernyataan diatas, Seorang employer yg baik..
    selalu melihat kelebihan dan kekurangan dari peserta..
    Misalkan Seorang IT Programmer, saya berani yakin, gk semua coding itu dia hapal, bahkan coding yg pemula juga
    tapi bgaimana dia menggunkan logika nya untuk bekerja

    Di perusahaan dibutuhkan Soft dan hard skill….
    Jgan pernah merekrut orang dilihat dari kelemahannya dulu….

    🙂

  • banyak sekali pelajar yang hanya mengejar nilai agar mendapat IPK terbaik, tapi hanya sedikit pelajar yang memiliki skill yang mumpuni…

  • Sebenernya skill yg kurang gak masalah.
    Yang penting punya dasar programming dan memiliki kemampuan utk belajar yg tinggi.

    Kalo orang tsb selalu ingin belajar, pasti akan maju pesat.

  • Ivan

    Sebenarnya tidak boleh dilihat dari satu sisi saja ( perusahaan ).
    untuk kemampuan seseorang tidak didasarkan bisa ini itu menguasaai framework whatever lah.
    tidak bisa disalahkan fresh graduate tidak mengerti bbrp macam framework. coba saja sekilas balik lihat banyak posting lowongan fresh graduate dengan detail yang dibutuhkan seukuran middle or senior,menurut saya tidak cocok untuk kelas fresh graduate.
    dan menurut pengalaman saya, sedikit perusahaan yang berani bayar sesuai dengan yang dibutuhkan. dituntut bisa bbrp macam skill tetapi dengan salary yang menurut saya tidak pas sekali.

    yang penting resource yang ada mau berkembang dan belajar (apalagi kalau pintar resourcenya) malah menguntukan perusahaan menurut saya.

    seperti halnya di sirkuit:
    orang baru bisa menyetir mobil di suruh balapan. ya nabrak 🙂
    yang benar baru bisa nyetir latihan dan latihan, sedikit demi sedikit terjun ke arena balap.
    baru itu benar.

  • Gw inget dulu waktu baru pertama kali nyemplung di dunia Telco. Gw gak tahu apa2 sama sekali. Bahkan CDR aja gak tahu. Tahunya cuman unix dikit. Terus belajar shell script, belajar perl script, belajar manage CDR files, belajar call-flow, sampai akhirnya menguasai hampir semua service realtime transaction (Voice, SMS, GPRS, PRBT, CMS, Topup, dll)

  • wah, jadi ngerasa kesindir 😀
    tapi beneran nih, saya masih ngejalanin S1 sekarang, memang kami lebih banyak ke google untuk tugas. pemikirannya gini nih kadang2 “kalo mikirin tugas yang ini terus, bakalan habis waktu, udahan ah, cari google aja biar cepat”. akhirnya ya skill pada tanggung, yang penting lulus aja dulu. tapi alhamdulilah masih ada yang nyangkut. kami belajar java, dan alhamdulilah walaupun banyak googling tapi skill udah lumayan deh kalo sekedar buat IS sederhana. kami TI pelosok nih mas, mungkin banyak gak tau kalo di Bengkulu ada IT 😀

  • saya setuju banget dengan “Buka juga untuk programmer non Teknik Informatika, biasanya kalau..”, ada pemuda SMA di organisasi kepemudaan kampung sudah bisa membuat template dengan notepad.
    Bagaimana menurut Bapak?

  • Bobby

    Kalo kata saya sih,

    Soal test masuk itu meningan logicnya yg dibanyakin ketimbang teknis coding, ga sedikit orang kaya saya yang punya paradigma, coding syntax itu bisa dipelajarin dan gausah diapalin tok, asal logicnya jalan pasti bisa.

  • @agung dewandaru: kalo perspektif saya, lulusan S1 IT adalah siap kerja, bukan siap latih. kalo lulusan fisika, kimia, dll, bolehlah siap latih. hehehe

    @wendi: saya juga sering rekrut pegawai IT. dan jika sedang rekruitment saya akan memberikan ybs test mengerjakan aplikasi dengan spec tertentu (e.g. menggunakan transaction, framework xxx, dll). kenapa? karena yang melamar pasti bilang, “saya adalah fast learner, mempunyai logika yang baik, dll”. ya udah saya test aja kan kalo gitu. disuruh buat aplikasi, dan pada saat interview, dia presentasi aplikasi yang udah diabuat, sekalian live coding di depan saya, dan kita tanya2 tentang hal-hal teknis lainnya.

    hasilnya, kebanyakan kandidat justru hilang entah kemana ketika diminta untuk mengerjakan aplikasi. ada juga yang berjanji mengerjakan aplikasi, tapi setelah dikonfirmasi, ternyata orang tsb mengakui bahwa ybs bukan fast learner jadi kesulitan mengerjakan tugas. hehehe…

  • @ardhi: sekedar share, di tempat saya bekerja, saya butuh orang yang punya hardskill mas. seorang programmer yang mampu belajar cepat dan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan.

    betul, ngak semua programmer hafal syntax. makanya, bagi para kandidat saya tugasi untuk membuat aplikasi, presentasi aplikasinya, tahu cara kerja fungsi2 yang ditulis dalam programnya, live coding didepan saya, dan anda harus tahu, bahwa kandidat tersebut juga boleh googling loh…. :-p syaratnya, begitu dia comot code orang lain, dia harus ngerti maksudnya.

  • @hajrun: setuju. banyak mahasiswa yang IPKnya tinggi tapi hands-on skillnya kurang.

    @evan: kalo saya mas, jika selagi mahasiswa bisa belajar banyak skill, ya kenapa tidak dilakukan? di industri kan butuhnya skill, bukan IPK.

    saya setuju, bahwa mahasiswa lulusan IT perlu mempunyai kemauan belajar yang tinggi. karena itulah saya test membuat aplikasi dengan teknologi yang mungkin kurang familiar bagi ybs. nah jika saat membuat aplikasi tersebut ngak lancar, berarti mungkin dia bermasalah dengan kemauan belajarnya yang tingi itu. hehehe

  • @ivan: mungkin bisa berkunjung disini dulu:
    http://achmad.glcnetworks.com/2010/01/19/perusahaan-yang-minta-superman-atau-pelamar-yang-kurang-skill/

    @van: skill telco adalah spesifik, sempit, ngak public, sehingga tidak banyak orang yang orang tahu. saya juga demikian ketika masuk telco. nah ketika rekrutasi, tentu si employer akan memilih dong. kandidat mana yang paling skillful. mungkin saat itu, anda yang paling skillful dibandingkan kandidat lainnya. 🙂 hehehe

    @deki: salam buat IT bengkulu

    @wawan: ditempat saya, jika rekrut orang IT, kita ngak lihat backgroundnya. mau S1, D3, SMA, dst ngak pengaruh. yang penting dia ngerjain test aplikasi dengan baik.

    @underdog: kalo trik saya, selesaikan dulu skripsinya, kemudian tunda wisuda. jadi anda akan menikmati status mahasiswa tanpa beban dengan lebih lama.

    @bobby: menurut saya, logika adalah nomor satu, tapi logika hanya dapat useful jika didukung dengan kemampuan teknis yaitu menuliskan logika tersebut kedalam baris kode. ingat, programmer itu kerjanya menulis kode, bukan hanya berlogika saja. jika cuma logika, mungkin akan lebih cocok jika masuk fakultas hukum. hehehe :-p

  • G usah berdebat..
    Lo memang lulusan TI banyak yang mengecewakan.. kita jangan dulu mnyalahkan orangnya,tapi liat dulu waktu kuliah,kinerja dosennya bgaimana..
    banyak juga dosen yang hanya datang absen saja dikampus..
    dikampus saya juga banyak..
    tapi walaupun mengecewakan anak TI masih dicari,walaupun sebodohnya anak TI,tapi masih lebih bodoh orang yang hanya omong saja yang besar tapi disuruh megang kompi hanya bisa hidup n matikan saja.

  • @hacker: thanks for visiting.
    artikel ini saya tulis dengan harapan:
    – jika yang membaca adalah seorang lulusan IT & jobseeker, maka silahkan siapkan diri untuk menjual skill anda. karena joobseeker itu menurut saya, tidak jauh beda dengan pedagang. cuman beda jualan aja

    – jika yang membaca artikel ini adalah seorang pengajar, maka paling tidak dia sadar bahwa pendidikan IT di indonesia adalah tidak match dengan industri. karena itu para muridnya perlu dibekali dengan skill yang mumpuni.

    – jika yang membaca artikel ini adalah masih belajar (mahasiswa) maka persiapkan diri anda dengan skill yang dicari market. akan susah mengharapkan sekolah anda peduli dengan nasib anda setelah anda lulus nanti. perusahaan pun juga ngak peduli apakah dosen anda dulu jarang masuk atau tidak, karena itu tidak relevan dengan pekerjaan. jadi selamatkanlah diri anda sendiri. bersyukurlah jika dosen anda memberi anda banyak tugas yang hands-on sehingga anda terasah keahliannya. anda perlu tahu, ada ribuan sarjana IT yang lulus setiap tahunnya dimana mereka berkompetisi memperebutkan lowongan IT yang sedikit jumlahnya.

  • Erfan

    Setuju dengan bung Achmad Mardiansyah.
    Saya hanya ingin menambahkan bahwa mind set kita sebagai mahasiswa/lulusan TI harus juga mulai diarahkan ke enterpreneurship, jangan hanya berharap jadi karyawan tukang coding aja. Di luar sana banyak (baca: sangat banyak) industri rumah tangga & mikro yg juga mulai berpikiran maju, dan ingin meng”IT”kan usahanya, baik dari segi promosi maupun administratif. Pangsanya lebih luas, kita juga akan lebih kreatif.

  • Ivan

    @bos achmad,

    kebetulan saya sudah pernah baca tulisan tersebut 😛
    menurut saya berlebihan.
    contoh saja fresh graduate bisa oracle ? bisa hanya sekedar query.query bukan oracle menurut saya hanya sekedar SQL.tidak gampang juga menguasai oracle dalam waktu singkat 😛
    fresh graduate bisa spring ? bisa saja. tapi sedalam apa dia menguasainya? jangan2 cuman bisa pakai saja tapi tidak tahu apa yang sebenarnya sampe low level class 🙂
    masih banyak yang lain contohnya.

    susah bos achmad kalau fresh graduate dengan dituntut dengan skill seperti itu.

    asal bisa CRUD,mapping2 table database,menguasai dasar pemrograman, menurut saya sudah lumayan untuk fresh graduate.

    dan ada kasus menarik bos. secara fakta bidang IT di indonesia. khususnya developer / programmer kurang dihargain. (yang ber skill saja kurang dihargai apalagi yang tidak ber skill). banyak kasus teman2 saya yang menurut saya pintar.mereka pada keluar dari indonesia. banyakan ke amrik / eropa gara – gara di Indonesia kurang dihargai.

    pesan saja untuk programmer2 muda. kalau sudah berskill bisa mengembangkan aplikasi sendiri.mending jualan sendiri saja. coding cape tapi hasil 100% buat kita 🙂

  • Ntah kenapa, tapi kok saya kurang setuju ya…..
    Hal di atas semua bilang masalah database padahal database itu tidak sekedar query, banyak aplikasi buat query builder, IDE atau manager untuk database yang banyak melakukan ini dan itu dan jelas penggunaan tools lebih mempercepat proses apalagi kalau coding.
    Masih terlalu sempit pemaparannya. Terus terang saja, saya gak punya sertifikat .Net tapi di perusahaan terakhir di Jakarta waktu saya kerja di sana, saya dianggap pengalaman .Net 5 tahun, sampe sekarang saya bikin aplikasi sendiri saya gak begitu paham masalah query database, saya serahkan ke tools untuk generate query, alhamdulillah udah jual beberapa lisensi produk dan gak banyak keluhan tuh dari client.

    • salam mas hendrawan,
      saya lihat anda ini menekankan penggunaan tools seperti query builder, tanpa harus tahu detil.
      jadi pokoknya tahu cara pake tools, ngak perlu lah tau detil2nya. begitu kan ya?

      menurut saya dunia IT itu adalah result-oriented. jadi terserah mau pakai gaya apapun, pakai tools apapun, yang penting hasilnya ada. yang terjadi di project kami adalah, jika orang yang hanya bergantung dengan tools biasanya akan susah untuk custom. hasilnya sih itu-itu aja sesuai dengan kemampuan toolsnya. diminta modif begini dan begitu lama sekali jadinya (kejadian nyata). project saya umumnya adalah web-based (PHP, yii, postgresql) mas. dimana memerlukan skill lebih dari sekedar memakai tools.

      nah, jika mas hendrawan ini berminat, silahkan gabung ke project saya. masalah gaji ngak masalah. jika dapat melakukan pekerjaan sesuai spec, kita ngak ragu bayar mahal.

  • Hmm diskusi yang menarik, kalau menurut saya rekrutmen memang tergantung kebutuhan, umumnya yang saya lihat kalau perusahan IT consultant memang biasanya mengharapkan yang hard skillnya OK, karena mereka fokusnya di project yang ada deadlinenya. Otomatis mereka juga butuh yang hard skillnya OK. Dan saya juga yakin mereka mau membayar lebih mahal untuk org yang benar2 punya skill. Dibandingkan dengan perusahaan yang bukan IT consultant, biasanya tes yang mereka berikan logical, mengerti konsep menyelesaikan masalah dan syukur kalau bisa mengimplementasikannya ke coding. Sekarang tergantung pelamarnya saja mau bekerja di bidang IT dengan kondisi perusahaan yang seperti apa, kalau memang senang coding silakan masuk perusahaan IT consultant, kalau merasa tidak begitu bisa coding silakan cari perusahaan yang fokusnya lain (mis: OT, Indofood, dll).
    Mengenai lulusan IT yang tidak bisa hard skill, saya juga tidak bisa menyalahkan. Software/bahasa pemrograman yang diajarkan disekolah itu tergantung dosennya. Kalau dulu saya belajar mulai dari PASCAL, C++, Assembly (16 dan 32-bit), JAVA, VB 2005 dan MSSQOL2000, kemudian PHP dan Javascript. Tidak mungkin bisa menguasai semuanya sampai level intermediate-advanced. Kemudian di TA saya malah menggunakan PHP dan ActionScript (belajar sendiri) karena kebutuhan. Sedangkan memasuki dunia kerja permintaan pasar bisa berubah, seperti contohnya C# lebih disukai daripada VB.Net, atau misalnya ASP.Net lebih disukai daripada ASP atau PHP, bagaimana mungkin kita mengharapkan para lulusan ini bisa mengerjakan tes dengan framework/bahasa/aplikasi yang kita inginkan. Kalau soal tes query okelah, seharusnya itu hal yang basic di setiap DBMS. Jadi tetap saja kita kembali ke “learn from experience”. Saya yakin kalau lulusan tersebut masuk ke perusahaan dan dicekokin kerjaan coding, akhirnya akan terbiasa dan terlatih juga dengan framework tersebut. Seperti contohnya teman saya lulusan Fisika, setahun yang lalu tidak bisa coding C++, sekarang skillnya di C++ sudah level advanced karena project yang harus dia kerjakan menuntut dia mengerti C++ sampai level parallel computing dan menggunakan OpenGL, dan akhirnya dia bisa coding dengan konsep OOP dengan mantap.
    Jadi kalau saran saya, untuk lulusan IT yang fresh graduate, kenali sendiri kemampuan kamu sampai dimana, jangan asal sebar lamaran ke perusahaan kalau memang kamu tidak punya skill yang mereka harapkan (kecuali kamu hanya ingin melihat2 seperti apa sih proses rekrutmen di perusahaan). Liat-liat juga perusahaan yang kalian lamar apakah tipe konsultansi atau bukan, tidak semua perusahaan mau memberikan tempat untuk yang baru mau belajar.
    Dan untuk perusahaan, ingat juga skill terhadap suatu tool tertentu itu bisa diperoleh dari berbagai kursus, tidak perlu kuliah Informatika selama 4-5thn, dan di Informatika mereka hanya menggunakan tool tersebut untuk menyelesaikan masalah dan mengerti konsepnya bagaimana. Jadi sayang sekali kalau lulusan IT hanya dinilai dari pertanyaan bisa bahasa pemrograman apa aja?
    Tapi kembali lagi ke kebutuhan perusahaan tadi, kalau misalnya yang anda cari hard skill, bikin saja S1 semua jurusan atau SMA/SMK dengan kemampuan pemrograman bahasa XXXX, tidak perlu membatasi lulusan IT saja.

  • Jonathan Natanael Siahaan

    Di kampus saya terjamin kok lulusan nya
    Setiap mahasiswa pasti sudah berpengalaman kalo ngerjain software. Karna di tempat kami setiap mahasiswa minimal sudah pernah ngerjain 6 project bikin software, dan itu masih project yang di kerjakan di dalam matakuliah. Kalo mahasiswa itu aktif di kompetisi bisa aja udah punya 12 project yang pernah di tangani. Cek aja Institut Teknologi Del 🙂

  • Feri

    Sebetulnya dari hasil akhir seorang manusia adalah produk dari pendidikan. dari mana saja pendidikan itu harus didapat semenjak kita ada didalam rahim pendidikan sudah ditanamkan dari memilih makanan yang baik untuk janin, didengarkan suara yang baik utk janin kemudian setelah lahir diberikan pendidikan yang baik oleh orang tuanya beranjak usia dini masukkan kesekolah PAUD dan seterusnya, selain itu sistem pendidikan tidak berorientasi kepada hasil,kebanyakan dikekang oleh sistem pendidikan untuk anak-anak berkreatifitas jika ada kreatifitas diluar sistem pendidikan dianggap sebuah pelanggaran contoh jika anak pintar berbicara dianggap sebagai anak yang suka ngobrol dijam pelajran, padahal kl dicermati potensi disitu bisa berbuah hasil menjadi Ahli orator yang diindonesia masih sedikit ahli orator. saya tidak ingin menyalahkan sistem pendidikan tapi coba dikaji ulang apakah sudah betul sesuai yang diharapkan oleh tuntutan jaman dimana seperti judul diatas, Lulusan IT banyak yang mengecewakan Employer, seorang mahasiswa pusing menyiapkan biaya,tugas dosen dan ujian semester jadi penyelenggara pendidikanlah yang harus punya tanggung jawab untuk meluluskan para mahasiswanya berkualitas. Penyelenggara pendidikan menerima calon mahasiswa apakah sudah selektif dgn jurusan diambil kl orientasinya quantitas calon mahasiswa dengan alasan sebagai pemasukan yah sudah pasti hasilnya hanya ada pada penyelenggara pendidikan tersebut karena calon mahasiswa yang sebetulnya tidak lulus demi mengejar pemasukan dan diluluskan sudah pasti tahu seperti apa hasilnya. jadi negara harus mengaudit penylenggara pendidikan secara konferenhesif jika tidak sesuai standar jangan coba2 memberikan izinnya tapi bukan rahasia lagi dinegara kita menurut majalah international mendapat peringkat terkorup kerna apa penyelenggara negara dan pendidikan setali tiga uang artinya jika ada uang semuanya bisa teratasi kalau sudah seperti terus tanpa terhentikan siap-siap aja kita akan menjadi pembantu dirumahnya sendri dan sepertinya sekarang ini sudah terjadi. jadi menurut saya koreksi diri dan mengajak orang terdekat dan orang terdekat dilingkungan kita sadar bahwa pendidikan penting agar dari setiap individu ke individu yang lain menyebar kesluruh negeri akan pentingnya pendidikan yang obyektif.

  • Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Dunia Tekhnik, menurut saya bidang studi teknik merupakan bidang studi yang sangat menarik
    juga banyak hal yang bisa dipelajari di dunia teknik.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis
    mengenai bidang teknik yang bisa anda kunjungi di Lembaga Teknik

  • kalo saya tau dan bisa semua yang ada di atas, anda sanggup membayar tinggi?
    gaji IT 3 juta?
    anda tau kuliah IT susahnya minta ampun?anda tau bayar kuliah IT berapa?swasta rata rata 6-10 jt perbulan atau bahkan lebih
    apa pantas di bayar 3 juta?
    mungkin anda dapat IT yang ga bernilai karena anda tidak bisa memberi nilai kepada IT

    • @gilang: thanks sudah berkunjung.
      itu yang komentar diatas berani bayar mahal sesuai dengan kemampuan programmer.
      btw, itu biaya univertas swasta 6-10 juga perbulan? bukannya per semester ya? boleh tahu nama unuiversitasnya?
      dan kalo mas gilang sendiri, kemampuan ITnya sudah seperti apa? mau digaji berapa?

    • oh iya maaf per semester maksud saya, saya sendiri sekarang mahasiswa tingkat akhir di salah satu PTN
      alhamdulillah untuk kemampuan, saya sudah menguasai ilmu dasar ti seperti pemrograman dan database dan sebagainya.
      perlu saya tekankan bahwa mahasiswa ditekankan untuk menguasai dasar dari ilmu TI saja karena teknologi komputer pengembangannya sangat cepat jadi wajar banyak fresh graduate yang belajar lagi ketika masuk kerja, tujuan di beri dasar agar para mahasiswa dapat mengejar perkembangan teknologi tersebut. Karena konsep dari pemrograman kurang lebih sama yaitu oop atau struktur, yang beda hanya bahasanya saja seperti java,perl,phyton dll. untuk kampus saya sendiri hanya diajari c, c++, java, php+html, framework mvc(java dan php) yaitu yii, ci dan play dan banyak lagi. Untuk proyek yang sudah saya kerjakan kebanyakan saya mengerjakan web sistem informasi
      kalo untuk database saya diajarkan oracle dan mysql via cmd(command line)/script
      untuk itu saya rasa lulusan it pantas dibayar mahal sesuai keringat yang sudah mereka keluarkan, saya menyarankan 8jt keatas untuk lulusan it.
      bukan gimana gimana tapi teknologi itu mahal, dan teknologi hanya untuk orang orang yang mampu membayar mahal. samsung, google, microsoft apa sanggup membayar mahal?ya. lalu apa tenaga it mereka berkualitas?ya, sangat berkualitas. Perbandingan gaji tenaga kerja it amerika dengan indonesia itu sangat jauh perbedaannya, saya rasa 8jt belum ada apa apanya dibanding it amerika. Jika anda menetapkan harga tersebut, insya allah anda akan mendapatkan tenaga it yang berkualitas. Dan ingat satu lagi, gaji menentukan kualitas, semoga pikiran anda terbuka, terimakasih

  • yudi

    emangnya bapak sudah bisa buat project apa aja?dan project tersebut sudah di pakai dimana aja?ingat pak diatas langit masih ada langit, jadi saya kurang berkenan kalo lulusan IT dibilang sangat mengecewakan,mungkin mereka jam terbangnya kurang,padahal kalo setiap hari selalu query,saya yakin mereka pasti bisa.saya juga lulusan IT, dan basic saya adalah programer database,,

  • @gilang:
    boleh share disini berapa gaji yang didapat sekarang? posting slip gajinya juga boleh banget biar valid.
    ya kalau di amerika lebih tinggi, ya ke amerika aja toh? gilang sudah pernah kerja di amerika?

  • Pak apa bisa programmer dengan umur 30 ke atas atau 40 ke atas masuk ke dalam perusahaan bapak yang membutuhkan programmer dengan usia maks 25 .?

    karna saya liat kebanyakan lowongan maksimal umur 28-30 tahun .?

  • Kalo requirement nya seperti itu di medan insya allah saya lulus mas, tp susah bener nyari lowongan yg requirement nya seperti itu khususnya fresh graduated di medan. Terkadang requirement dsni harus menguasai lebih dari 2 bahasa pemrograman. Selama ini saya malah minder dengan ilmu saya, apakah udah layak kerja di dunia IT khususnya programming. Tp kok liat opini 5 recruiter diatas kayaknya persaingan sangat sedikit jika hanya join query gk ngerti. Apa mgkin gk ditakdirkan untuk jd programmer ya saya? Hehehehehehe

  • Aji nugrahaning widhi

    Mohon maaf sebelumnya kepada mas2 semuanya yang sudah lebih berpengalaman. Di sini saya sebagai mahasiswa tertarik dengan artikel ini dan ingin berkomentar dari sudut pandang calon pelamar kerja.

    Ketika perusahaan menginginkan pekerja yang memiliki skill, mohon maaf seharusnya pengunjian dilakukan dengan cara praktik tanpa seleksi ipk maupun embel2 perguruan tinggi, dari ratusan pelamar hingga menjadi puluhan kandidat itu ada tahapan seleksi data pelamar, setelah itu kandidat baru di tes skill. Pertanyaannya, kenapa tidak ratusan pelamar itu di tes skill langsung? Kenapa harus nunggu di seleksi dulu? Alasannya buang2 waktu dan biaya oprasional? Kalau memang iya saya setuju. Karena tak usah munafik, ketika kita melihat buku, apa yang buat kita tertarik pada awalnya, cover dan judul, setelah kita beli dan baca sampai bab 1 dan itu tidak menarik, kita berhenti untuk membaca. Padahal ipk dan embel2 perguruan tinggi itu tidak berbanding lurus maupun berbanding terbalik dengan kualitas orangnya, tetapi bersifat random. Karena memang sistem pendidikan setingkat perguruan tinggi masih sangat lemah.

  • Heron

    Dear penulis….
    semua yg dijadikan contoh teknologi backend ya…
    aku sering temukan mindset
    coding = backend…. begitukah ?
    mohon pencerahannya, aku menyukai front-end dan menghabiskan 18 jam perhari utk itu. Tidak ada waktu utk backend kecuali sedikit js. jadi skrng aku butuh pencerahan soal dunia kerja? apakah saya termasuk dari mahasiswa bisa coding itu atau tidak ? jika tidak saya bisa memikirkan ulang patch saya kemana ?

  • @Mahmudin muttaqin: pekerjaan IT tidak ada batasannya pak. dari yang saya lihat, perusahaan mengambil anak2 muda karena energi mereka masih besar. hehehe. jika memang punya skill, kenapa tidak coba jadi freelancer aja pak? ke http://upwork.com misalnya?

    @Fadli Hudaya: ya coba dulu aja menurut saya, jangan langsung mengatasnamakan takdir. coba introspeksi apakah ada yang salah dengan cara belajar anda, ataukah sering terdistraksi dengan BBM, whatsapp, facebook, dll sehingga tidak fokus

    @ Aji nugrahaning widhi: salah satu alasan yang tulis rekan saya (asyraf mursalina) diatas adalah orang yang IPKnya tinggi mudah dididik, mudah menerima pelajaran. sehingga jika ada kurang2nya sedikit mereka bisa maklumi. jika IPK jeblok, tapi skillnya bagus, ya bisa masuk juga. tiap perusahaan punya fleksibilitas masing-masing… hehehe :-p

  • Kalau punya skill yang tinggi ngapain join ke perusahaan, mendingan buat usaha sendiri.

    Jadi menurut saya terlalu muluk kalau perusahaan minta skill dewa. Gak bisa ngoding gak masalah, yang penting logika excelnya main pasti kalau dilatih bisa ngoding. Cari IPK tinggi itu penting, karena mereka mudah untuk diajar.

    Perusahaan yang bagus harus bisa menyediakan fasilitas, diadakan training atau minimal semacam modul yang bisa dipelajari fresh graduate.

  • amal

    sudahlah..gak usah repot2. kalo perusahaan butuh orang IT tinggal kontak perusahaan IT developer, gak perlu repot lagi ngurusin Human Resource, gak keluar uang buat pelatihan pengembangan sdm IT progrmammernya, dll. kerjaan project tau beres.. gitu aja repot. orang manajemen dan HRD gak bakalan tau kembangkan talent dan cara dapetin programmer yg handal itu. fakta : programmer handal dan berpengalaman gak bakalan mau kerja di perusahaan. mereka bangun perusahaan IT developer/start up sendiri..dibawahnya banyak programmer muda yg dibina lagi sesuai perkembangan teknologi. situ gak bakalan sanggung ngurusin begiini. lebih baik kerjasama dengan kami untuk kesuksesan proyek dan perusahaan anda.

  • Rejeki itu misteri.. Selama 10tahun ane sudah create sktr 40 project enterprise, alhamdulillah klo selalu bersyukur, saya ditambahkan ilmu nya oleh Allah. Saya programmer database, lulusan sma tanpa ada basic it sama sekali. Belajar otodidak dgn membaca stackoverflow dan ikut beberapa kontribusi opensource di github. Pernah saya menerima gaji umr slm setahun sampe projek jadi, stlh jd q resign dan ttp support aplikasi tersebut dgn bayaran royalti. Alhamdulillah gaji saya 5jt + royalti dr 5 perusahaan..

  • gmbos

    @aalfiann

    wih… 40 project enterprise pak..?
    kalo project enterprise sih harusnya uda gak ada gaji jutaan pak..hehehehe
    mohon maaf kalo keliru..

  • @aan12

    dear para senior

    saya lulusan baru jurusan it.
    miris si baca komentar 5 hokage diatas

    jujur aja dari sudut pelamar. apa yg kami dapat di bangku perkuliahan terkadang jauh sekali dari harapan perusahaan. ya memang kami diberi banyak pembekalan bahsa pemrograman tapi ujungnya mahasisiswa lebih direferensikan untuk paham mendalami satu bahaa pemrograman

    dan saya yakin pelamar yg bertipe semangat dan mau belajar kedepanya mampu memenuhi persyaratan didunia kerja. waktu dan kesempatan untuk berkembang juga berperan penting. so yg saya tau hrd itu harusnya mengembangkan potensi orang. bukan menjudge dalam satu tahap tes.

  • @kukuh: setuju, kalau punya skill bagus, mending buat perusahaan sendiri. di indo sudah banyak pengangguran.

    @amal: nah, silahkan saudara-saudara ini ada yang nawarin kerjaan

    @aalfiann: mantaab…

    @aan12: betul, hrd harusnya mengembangkan potensi orang. mungkin karena hasil test orang tersebut ngak bagus, makanya HRD berkesimpulan bahwa orang ini sudah untuk dikembangkan. sehingga yang bersangkutan gugur.

    ah daripada ngomentari HRD yang harusnya begini begitu, mending kita tinggkatkan kemampuan diri sehingga tidak perlu wawancara HRD.

  • @all

    itu semua kan dari sudut pandang 5 rorang diatas, sekarang dari sudut pandang kalian sudah semua diperbandingkan biarkan mereka memiliki metode masing-masing dalam merekrut pegawai, ingat ya kita di dunia IT kita sangat berpegang teguh dengan prinsip dasar kita :

    INPUT –> PROSES —> OUTPUT

    So yang penting OUTPUT benar? setuju? nah OUTPUT inilah yang menjadi ekspetasi personal diatas. Selama output = ekspetasi maka terpenuhilah nilai TRUE nya… iiyeeekeeeen..? hehehe
    so mari kita lupakan PROSES yang hanya memperpanjang perdebatan. wkwkkwwk dasar Kids jaman NOW

    • Kids jaman old

      Saya programmer, saya ga menyombongkan diri tapi saya sering didewadewakan sama temen seperjuangan karna konsep life cycle development, oop, style coding yang matang, itu bukan tanpa belajar, tercatat udah 3 software house yang udah saya masuki dari situ saya banyak belajar dari yang model ngoding asal sampe oop. Saya keluar karna alasan sallary yang tidak masuk akal menurut saya, programmer sama admin kantor beda tipis, akhirnya single fighter.
      Jenuh, akhirnya coba mencoba peruntungan di salah satu perusahaan non IT besar yang range gajinya wow, bisa 3x dari gaji standar saya di software house, kebetulan standar yang mereka minta pun boleh dibilang saya sudah di atas rata-rata untuk salah satu bahasa pemrograman yang mereka minta plus beberapa bahasa pemrograman yang saya kuasai.. Eh pas tes skill dengan konsep oop yang saya tunjukkan dengan kode program, mereka hanya bisa bilang ga sesuai dengan cara mereka bekerja (ga cocok), walaupun mereka ngakui sendiri jika mereka memang kesusahan trace error ketika ada trouble, padahal dengan oop tsb trace jadi lebih mudah, cepet ketahuan kode mana yang masalah, atau identifikasi masalah apa di sistem, db, ataukah hardware..
      Saat tes skill mereka minjemin laptop, iseng buka kodingan hasil kerja mereka, eh j***** kaya anak IT bikin TA.. Ya apa boleh buat, saya cuma bisa bingung dan bilang “oke, ga papa pak bukan takdir saya di sini”

      Intinya output nomor satu, ga peduli caranya bagaimana, pengembangannya seperti apa, life cycle developmentnya bagaimana, itu terserah mereka.

  • galih indra

    Saya biasa liat di jobstreet.com perasaan semua perusahaan IT nyarinya yang minim pengalaman kerja 1 tahun.
    Yang fresh graduate ini gimana?emang sih mahasiswa harus mengerti kebutuhan perusahaan yang dilamar.Kalo syaratnya kaya gitu yang baru lulus ini kapan dapet kesempatan di dunia profesional?Saya rasa wajar saja lulusan baru IT tidak seberapa menguasai skill karena tidak dapat kesempatan (Dengan catatan calon pekerja memang punya semangat/niat kuliah di bidang IT)

  • Saya setuju dengan pembahasan diatas output ekspetasi personal orang IT.
    Orang IT bukan komunis yang mensejahterakan orang kapitalis, mereka semua belajar logika. Yang penting feedbacknya real sesuai human resource.
    Dan berdasarkan hasil forum diatas, semoga pihak employer dapat menganalisis dan mengimplementasikan lebih baik lagi untuk proses recruitment.
    Don’t judge lulusan IT hehehe :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.