Sunday, September 23

Apa betul kita perlu kuliah MM (magister manajemen)? & mengapa ipk tinggi diperlukan?

Artikel dibawah bukan saya yang nulis, melainkan dicopy dari sini.
Sebuah tulisan lama dari dahlan iskan (CEO jawa pos & PLN) yang membahas sisi kritis dari program MM (yup! program MM, bukan program masters lainnya). Seperti yang kita ketahui, saat ini banyak universitas yang membuka program MM dimana selain menambah program study, kursus MM ini adalah sumber pemasukan yang lumayan bagi universitas. Tulisan ini juga menyinggung kenapa perusahaan merekrut lulusan yang ber-IPK tinggi, dan bisa jadi ini adalah sebabnya para pemberi beasiswa tidak berminat menyekolahkan calon penerima untuk sekolah MM.
———————————

Lulusan S1 Saja Cukup Tak Perlu MM

catatan dahlan iskan

Salah satu acara saya di Jogja pekan lalu adalah menghadiri konferensi mengenai keterkaitan pendidikan magister manajemen (MM) dengan dunia bisnis. Singkatnya apa yang sebenarnya diperlukan oleh dunia bisnis dari pendidikan manajemen yang ada di Indonesia ini. Acara yang diselenggarakan di MM UGM Jogja itu dihadiri oleh para pimpinan program MM dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. Juga oleh para praktisi bisnis dari perbankan, asuransi, industri oksigen dan juga media seperti saya.

Saya menyampaikan terus terang bahwa saya belum pernah melihat kurikulum di program MM. Saya juga tidak tahu komposisi antara pelajaran teoritis, studi kasus dan magangnya. Bahkan saya belum pernah melihat bagaimana bentuk ijazah MM itu. Kalau saja saya pernah melihatnya, maka saya akan langsung tahu bagaimana membuat hubungan yang akan terjadi.

Saya tahu dan menjalani, mengapa dunia usaha memerlukan seorang lulusan S-1 dan tidak cukup kalau hanya SMA. Seorang lulusan S-1 diasumsikan bahwa dia sudah memperoleh pendidikan bagaimana berpikir logis, analitis dan sistematis. Maka yang kita perlukan paling pokok dari seorang lulusan S-1 adalah tiga hal itu. Bahkan dia pintar dalam disiplin ilmu tertentu adalah juga penting, tapi belum yang terutama. Sebab untuk penguasaan materi bidang tertentu, seorang bisnisman akan lebih mengandalkan dari praktik yang dia lakukan ketika mulai masuk bekerja.

Kalau seorang lulusan S-1 berpikirnya sangat logis, analitis dan sistematis, maka dia akan dengan sangat cepat menguasai materi-materi baru yang ada di perusahaan dengan amat cepat dan baik. Bahwa dia memiliki penguasaan materi di bidang itu, memang bisa menambah kecepatan tersebut.

Tapi mengapa perusahaan juga memerlukan lulusan S-1 dengan IP yang tinggi? Saya kemukakan, bahwa IP tinggi diperlukan sebagai penetapan asumsi bahwa lulusan tersebut punya otak yang kapasitasnya cukup besar. Gunanya, untuk menyerap hal-hal baru yang dia temukan ketika mulai bekerja dengan daya serap yang besar. Kalau IP-nya tinggi, kita bisa mengasumsikan bahwa otaknya cukup besar. Buktinya mampu menyerap pelajaran dengan sangat baik. Berarti dia juga akan mampu menyerap hal-hal baru yang dia temukan saat bekerja secara baik pula.

Maka dari seorang lulusan S-1 kita sudah akan mengandalkan sistem berpikir dan kecepatan daya serapnya. Soal penguasaan atas pekerjaannya biarlah didapat secara cepat dari masa awal kerjanya. Semakin lama bekerja akan semakin punya penguasaan pekerjaan yang sangat baik. Termasuk penguasaan bidang manajemen yang dia pelajari dari praktik manajemen di perusahaan tempatnya bekerja.
Pelajaran manajemen itu dia peroleh secara langsung dan praktik dari pimpinan perusahaan, para seniornya dan juga dari hubungannya dengan relasi perusahaan tempatnya bekerja. Di samping dari keinginannya sendiri untuk tahu lebih dalam mengenai bidang manajemen. Kapasitas berpikir, kecepatan menyerap penguasaan pekerjaan dan kemudian karakter yang baik, itulah yang kemudian disebut perjalanan karir.

Dari seorang lulusan S-1 kita masih bisa mengandalkan satu hal lagi: umurnya yang masih muda. Katakanlah umurnya baru 23 tahun. Dengan umur segitu dan dengan kapasitas berpikir yang besar, logis dan analitis maka dalam 3 atau 4 tahun si lulusan S-1 tadi sudah akan sangat menguasai pekerjaan dengan segala persoalannya. Kalau belum juga berarti ada tiga kemungkinan: kapasitas berpikirnya ternyata tidak sebesar yang digambarkan oleh IP-nya, atau dia seorang pemalas, atau lingkungan tempatnya bekerja tidak memiliki sistem dan praktik manajemen yang memadai. Tapi kalau tiga-tiganya ada dan lulusan S-1 yang sudah berpengalaman 4 tahun tadi karirnya belum baik juga, barangkali persoalannya tinggal satu: karakternya kurang baik. Bisa jadi dia seorang yang potensial konflik, bisa jadi seorang yang tidak bisa bekerja dalam tim dan barangkali seorang yang tidak jujur.

Kalau begitu, apa yang diharapkan dari seorang lulusan MM? Sudah pasti bukan kapasitas berpikirnya, bukan penguasaan atas penguasaan pekerjaannya. Dan sudah pasti bukan pula umurnya, karena sudah pasti minimal 2 tahun lebih tua dari seorang lulusan S-1.
Salah satu yang mungkin diperlukan adalah: keahlian ilmu manajemennya. “Ilmunya”, bukan kemampuan manajerialnya. Tapi karena praktik manajerial itu bercabang-cabang, maka sebenarnya kita perlu referensi dari lembaga yang menjelenggarakan program MM. Si lulusan MM itu unggul di cabang manajemen yang mana? Manajemen personalia? Manajemen pemasaran? Manajemen keuangan?

Maka dalam forum di UGM itu saya bertanya: tergambarkah di dalam ijazah MM itu di bidang manajemen yang mana nilainya lebih tinggi? Agar dunia usaha bisa langsung memplot bidang tugasnya? Kalau tidak, maka pelaku usaha akan tetap memperlakukan lulusan MM sebagaimana memperlakukan lulusan S-1. Artinya harus dites dulu, lalu dicoba dulu beberapa waktu ditempatkan di beberapa bagian sebelum akhirnya ditemukan di mana tempat yang terbaik untuk dirinya. Kalau perusahaan masih harus memperlakukan lulusan MM seperti itu, maka pada dasarnya kecocokan dunia program MM dan dunia usaha masih belum ideal.

Kalau gambaran lulusan itu lebih konkrit, maka lulusan MM akan bisa langsung masuk ke level dua di perusahaan, dengan asumsi perusahaan memang memerlukannya karena tidak semua tenaga lulusan S-1 yang disiapkannya bisa mencapai level itu. Karena diharapkan masuknya langsung di level dua, maka keinginan perusahaan terhadap lulusan MM adalah kemampuannya untuk melakukan perubahan. Yakni perubahan dalam sistem dan praktek manajemen di lingkungannya. Tanpa kemampuan melakukan perubahan itu maka sebenarnya urgensi program MM juga tidak tinggi. Itulah sebabnya di forum itu saya mengemukakan sebenarnya banyaknya pejabat yang mengambil program MM hanya akan menjatuhkan reputasi program MM. Sebab, setelah menyandang gelar MM mereka toh tidak mampu melakukan perubahan apa-apa. Antara lain karena lingkungan kerjanya yang memang tidak memungkinkannya.

—————

URL pendek: http://bit.ly/mZBJwW

silahkan bagi yang ingin menanggapi…

35 Comments

  • denia

    dibaca dulu artikelnya dengan baik pak, baru kasih pengantar buat artikelnya..kalo gak paham bener2 kan malah bapak menjelekkan program MM, duh duh padahal maksud pak dahlannya bukan begitu. menurut saya ilmu MM itu lebih ke implementasi jadi cocok utk para praktisi seperti CEO, diretur,dll..kalo utk seorang pemikir seperti dosen, dan para pembuat kebijaksanaan yaa memang cocok kuliah di teoritis dan pendalamannya..makanya pemberi beasiswa lebih senang ngasih beasiswa ke non MM, lah wong yang nyari beasiswa kebanyakan dosen dan para pembuat kebijakan di pemerintahan. gituuu loh pak.

  • @denia:
    saya udah baca artikel tersebut beberapa kali, background saya dari teknik industri (S1) yang kemudian lanjut ke MEngSc (specialisation: telecommunication) UNSW.
    dalam program master tsb, diajarkan juga beberapa materi tentang managerial. salah satu course yang saya ambil adalah “project management” dimana pengajarnya 2 orang, yang satu seorang project manager aktif, yang satunya adalah akademisi yang punya banyak research tentang managerial.

    pada tulisan diatas, ada kata mungkin dan “bisa jadi” dimana berarti belum tentu benar, yang berarti masih harus dikaji lagi. untuk itu ada diskusi ini.

    tentang kalimat denia, “ilmu MM itu lebih ke implementasi jadi cocok utk para praktisi seperti CEO, diretur,dll”. saya malah melihat bahwa justru pak dahlan iskan mengatakan kebalikannya coba lihat kutipan: “Salah satu yang mungkin diperlukan adalah: keahlian ilmu manajemennya. “Ilmunya”, bukan kemampuan manajerialnya”.

    nah terkait dengan program MM, kuliah master saya di UNSW berarti juga ada unsur MMnya juga toh? lalu kenapa harus ambil MM? berarti kan harus ditanya lagi apa sebenernya tujuan MM itu? skill apa yang diharapkan industri dari para lulusan MM?

    tentang donatur yang tidak berminat memberikan beasiswa untuk MM, bisa lihat disini. yang saya maksud dengan donatur beasiswa disini adalah donatur beasiswa untuk sekolah didalam negeri. jika gap antara industri dan lulusan MM adalah benar adanya seperti yang ditulis diatas, maka sang donatur beasiswa pun juga urung menyekolahkan orang2 tsb ke program MM.

    ohya jika denia juga merupakan lulusan MM, mungkin bisa cerita juga pelajaran apa yang didapat disana, kurikulumnya bagaimana, spesialisasi di management apa? apakah kuliah MMnya sambil kerja? jika ada seorang lulusan teknik industri (S1) dimana sudah banyak belajar tentang management ketika bachelor degreenya, lalu nilai tambah apa yang diberikan program MM?

  • gh

    goblog!
    master itu ke teoretisi
    magister itu praktisi

    makanya di bbp universitas, calon mahasiswa magister biasanya dipersyaratkan minimal kerja 2 tahun.

    saya juga lulusan magister manajemen (konsentrasi di manajemen pemasaran dg site in class di SDM), dan saat ini saya menduduki jabatan sebagai manajer HRD di sebuah perusahaan ternama di Indonesia.

    nggak usah lebay deh kalo nggak paham!

  • maaf mas Achmad Mardiansyah’s Journal beda titel dalam pendidikan itu beda juga pola fikir seseorang…

    tamatan SMA

    tamatan D3

    tamatan S1

    dan S2,S3

    pola fikirnya beda…ngk bisa di samakan….

    kalo misalnya sama…?

    kalo Mas kuliah S2…tapi yang ngajerin Dosenya S1…Mas Mau….????

  • @syaiful alaydrus: terima kasih telah berkunjung.
    saya jawab pertanyaannya dulu ya:

    kalo Mas kuliah S2…tapi yang ngajerin Dosenya S1…Mas Mau….????

    kenapa tidak mau? saya dapat titel S2 saya dari UNSW (australia), dan ketika kuliah disana, kita juga diajarin oleh lulusan S1 yang pengalaman lapangannya banyak. tujuan kita belajar adalah memperoleh ilmu kan ya? dan ilmu itu tidak cuma dimiliki oleh S1, S2, S3. kadang orang yang g punya titel juga ilmunya lebih ngerti.

    ya mas, saya harus mengakui bahwa budaya indonesia yang sangat hierarkis memang sangat mendewa-dewakan titel. sampai-sampai ditulis di KTP. hehehe…

    pertanyaan saya, jika orang bertitel sudah banyak di indonesia, kenapa indonesia masih gini-gini aje?

    kepada mas syaiful, mohon dibaca lagi artikelnya, karena saya merasa ada yang missing dari pemahaman anda.

  • Bagus D

    Bapak2 di atas ane, khususnya bpk gh. kita disini untuk bertukar pendapat, bukan untuk saling menyela. bs jd bpk achmad tdk trlalu memahami apa yg dimaksud pak dahlan. tp bs jg kan kita yg membaca artikel ini tdk bs spenuhnya memahami apa yg dimaksud bpk achmad. 🙂

    Jika menurut saya, MM akan kurang tepat jika yg akan kuliah MM adalah seseorang yg baru lulus kuliah S1, yg blm pny pengalaman ttg manajerial, karena ketika kuliah MM yg dy dptkan hny teori, jka ad praktek pun itu blm menggambarkan secara keseluruhan dunia manajerial. Kecuali jka dy ingin menjadi dosen. hehehe..
    Sekian pendapat saya, salam. Peace V

  • @Bagus D: salam kenal pak, terima kasih telah berkunjung kemari…
    sekedar menambahkan, menurut saya, memang sebaiknya jika ingin lanjut kuliah ke S2 atau yang lebih tinggi, ybs perlu punya pengalaman kerja agar lebih mengerti tentang apa yang dipelajari pada program master tersebut.

    misal: ada pelajaran marketing, trus ada sebuah teori 4P: place, price, promotion, position. kalo orang tersebut kurang pengalaman lapangan, maka hasilnya biasanya hanya menjadi hafalan saja. jika orang tersebut pernah bekerja dibidang tersebut, maka 4P tadi akan lebih dihayati oleh yang bersangkutan.

    dan saya sepakat dengan anda, dosen karbitan biasanya langsung lanjut ke S2 begitu lulus. ya saat ini system di indo memang demikian sih ya, dosen sekarang standarnya minimal S2, ditambah lagi profesi dosen memang sepi peminat. jadilah lulusan yang baru2 itu ditawarkan jadi dosen & langsung disekolahkan S2, meskipun nga punya pengalaman industri. hehehe :-p

  • M. Sasli

    Oo wow. Seru! Akhir juni td, saya diwisuda untuk gelar sarjana ekonomi. Saya ada rencana untuk lanjut studi ke ugm, di program MBA. Saya pengen jd pebisnis, dan biz consultant, goalnya adalah nolongin pemilik start up biz, atau potential sleeping biz, yg mau berkembang, dan naik level dari umkm biz, ke mid atau high biz class. Areal fokus saya kalimantan. Karena saya asli warga borneo. Membaca obrolan bapak ibu di atas, membuat saya ragu untuk lanjut. Sementara pertimbangan saya, di program MBA itu, saya rasa kurikulumnya cocok. Yg ngga cocok harganya.. 😉 saya pengennya di usia 25-26 nanti, sy bisa mulai dan expert di biz consultant yg td saya sampaikan. Nah, kalo dari saran bapak ibu yg expert, apakah saya harus lanjut studi? Dan tepatkah kalau aya ambil program MBA? Atau menundanya? Atau kerja dulu 2 tahunan (saya ada tawaran kerja di bbrp bank sebagai FL, BL, dan di funding org), atau saya buka usaha dulu? Monggo beri saya sarannya bapak ibu sekalian.. Terimakasih sebelumnya..

  • @sasli: terima kasih telah berkunjung kemari 🙂
    pendapat saya:
    – pebisnis itu ngak perlu title. kalo mau bisnis ya bisnis aja ngak perlu harus MBA dulu.
    – jika ingin mulai bisnis dari nol tanpa ada pengalaman bisnis sebelumnya, akan lebih baik jika jadi pekerja dulu, bekerja pada orang lain. sambil belajar seperti apa mereka menjalankan bisnis. jika dapat kesempatan bekerja di perusahaan multinational, maka akan lebih baik lagi karena membuka wawasan kita.
    – tentu saja dapat langsung membuka bisnis (mis: jual ini/itu, buka toko, buka sewa ini & itu, dll). Hanya saja, jika belum punya pengalaman, hasilnya menjadi trial & error, kejeduk sana & sini, kepentok sana & sini. itulah mengapa saya sarankan belajar jadi pegawai dulu sebelum buka usaha. mulai dari skala kecil dulu membangun pondasi yang kuat agar dapat handle bisnis yang lebih besar skalanya.

  • Agus

    Buat yang punya blog dan lainnya.
    Setiap ilmu yang dipelajari pasti ada gunanya, dan setiap jurusan pada suatu pendidikan tertentu pasti ada manfaatnya. Apalagi jika yang kita pelajari adalah ilmu agama, manfaatnya pasti sangat luar biasa.

    Contoh : semua mahasiswa pasti mendapat mata kuliah statistik, tapi yang bukan jurusan statistik yang dipelajari hanyalah statistik dasar, begitu juga menurut mas Ahmad jika mendapat mata kuliah manajemen apakah yang diperoleh di program master sama dengan manajemen di jurusan MM?

    Mungkin sedikit ilustrasi contoh diatas hanyalah perumpamaan bahwa kita sangat kecil, jangan saling merendahkan bahwa si A lulusan ini dan si B lulusan ini. Jika belum ada kemajuan di negeri ini bukan karena lulusan si A darimana dan si B darimana tapi mental saling menyalahkan dan merendahkan serta ego terhadap diri sendiri itu yang jadi penyebabnya (yang penting saya bisa hidup, yang lain masa bodoh inilah yang terjadi saat ini).

  • @agus: thanks for visiting this blog.
    saya rasa setiap orang berhak menulis dan berpendapat secara bebas. mungkin cara menyampaikan saja yang rada beda. tulisan saya dianggap menjelekkan bagi pembaca lain, dan mungkin saya juga dianggap demikian. padahal belum tentu.

    jika mas agus melihat komentar saya diatas, ini adalah opini pribadi oleh orang lain dan saya setuju dengan itu.

    kalau boleh usul, akan lebih baik jika ada yang juga membuat tulisan: “lulusan S1 tidak cukup, kita perlu lanjut ke MM”.

  • Zeus

    Selamat, Bung Ahmad.. banyak yang komentar 😀

    Saya mau ikutan komen juga.

    Sebagai artikel jurnalistik, tulisannya bagus. Buktinya memancing banyak komentar. Tapi sebagai tulisan yang ditulis oleh ilmuwan, mekipun bukan artikel ilmiah, rasanya banyak sekali kekurangannya. Pertama, anda hanya mengutip artikel Pak Dahlan. Judul anda keberatan untuk satu artikel ini. Harusnya anda bisa menyertakan juga kurikulum MM dari beberapa PT di Indonesia. Dengan demikian kita bisa tahu, apakah yang diinginkan dari lulusan MM oleh praktisi seperti Pak Dahlan sudah berusaha dipenuhi oleh penyelenggara program MM melalui kurikulum tersebut. Lebih baik lagi jika ditambahkan dengan keunggulan program MM dari beberapa PT, seperti yang diinginkan Pak Dahlan. Acuan utama kita pemikirannya Pak Dahlan, kan ?
    Kedua, Anda tidak perlu terlalu menekankan bahwa anda adalah lulusan dari UNSW. Bukan saja itu kurang simpatik, sekaligus juga menunjukkan bahwa anda butuh embel-embel UNSW untuk mendukung pernyataan-pernyataan anda. Seperti anda bilang sendiri,dalam menanggapi Pak Syaiful, “kenapa tidak mau? saya dapat titel S2 saya dari UNSW (australia), dan ketika kuliah disana, kita juga diajarin oleh lulusan S1 yang pengalaman lapangannya banyak. tujuan kita belajar adalah memperoleh ilmu kan ya? dan ilmu itu tidak cuma dimiliki oleh S1, S2, S3. kadang orang yang g punya titel juga ilmunya lebih ngerti.” Artinya tidak selamanya kuliah di luar negeri bisa menjamin lebih berhasil dibanding mereka yang kuliah di dalam negeri. Toh, kadang orang yang tidak punya titel bisa saja punya ilmu yang lebih tinggi, ya kan ?

  • Reza

    pengen ngakak liat komen pak gh…bisa bisa nya orang goblok menggoblok2xan orang lain…pake bilang master dan magister beda di teoritis vs praktisi… 😮

  • Piter

    MM perlu atau tidak?? jawabannya dianda sendiri, anda sendiri memiliki gelar terakhir S2 kan?? kenapa anda ambil?? klau tidak perlu berarti anda tidak usah mengambilnya… tooh anda jebolan Australia aku tidak tau Universitas apa yg terbaik diaustralia, mnurut aku diluar negeri tdak smuanya baik bnyak jga yg abal-abal.. klau kita mau kuliah diluar negeri hrus tau yg mana yg bagus sperti University of Oxford diengland, diameriki ada Harvard University, Yale University hmpir stiap university di ameriki membuka jurusan bisnis dari gelar BBA (Bachelor of Business Administration), MBA (Master of Business Administration), DBA (Doctor of Business Administration)… itu gelar MBA setara dengan gelar MM mata kuliah juga tidak jauh berbeda, MM=MBA…. jadi klau memang tidak perlu tooh seharusnya universitas-universitas terkenal diberbagai dunia tidak membuka sekolah bisnis yg memberi gelar MM atau MBA….

  • @piter: betul. jawaban di anda sendiri. dan tulisan diatas adalah opini saya sendiri dimana orang boleh setuju boleh tidak.

    kenapa universitas membuka progam MBA? menurut saya salah satunya karena faktor uang. MBA itu salah satu program yang bisa mendatangkan pemasukan yang lumayan bagi universitas.

    • laoli

      Klo saya gmn dong? Saya lulusan sastra jepang, karena tertarik dengan pasar modal ingin lanjut k MM UGM. Dah puny satu sertifikat profesiny WPPE, belon ad pengalaman kerja karena fresh graduate harapanny bisa masuk bei ato lembaga keuangan yg ad hub dgn psr modal. Usia saat ini 24 thn gmn saranny?

  • Cocoberry

    Mgkin program studi manajemen bisnis yg beroutputkan para MM bisa bermanfaat bagi para lulusan sarjana non ekonomi & manajemen yg ingin bljr tentang bisnis baik utk bekerja pd profit oriented companies ataupun mnjlnkan bisnisnya sdri.. Th 2005 lalu saya seorg sarjana perikanan yg ingin turut berkompetisi dlm bisnis namun blm punya modal sdri shgga hrs bkrja utk mncari pnglmn & simpanan modal. Tp sayang krna titel sarjana yg bs dblg “tdk biasa” & ktrbatasan ilmu ttg bisnis yg sgt2 krg saya dptkan di s1 shg saya krg memiliki daya saing/mengalami kesulitan pd seleksi rekrutmen di prshn baik lokal & multinasional meskipun akhirnya saya bkrja walau hanya sbgai staf admin pd bank & PT.Tbk yg ckp ternama. Sgt tdk puas dgn kondisi tsb akhirnya saya lanjutkan studi MM dan disitu saya memperoleh byk pencerahan dlm berbagai aspek bisnis yg meliputi aspek produksi, sdm, strategik, pemasaran, keuangan & sustainable business dev. Hal tsb ckp membuka pandangan, memberikan arah, menguatkan tekad dan mental serta memperluas jaringan saya ttg bisnis. Ibarat alm Bob Sadino yg sukses membangun bisnisnya dgn pnglaman & perjuangan yg keras slma 30 th, apalah arti saya?? 🙂

  • @laoli: saya rasa dunia kerja memerlukan pegalaman kerja dan sertifikasi profesi. pendidikan formal kadang tidak terlalu penting sih. so just go ahead!

    @cocoberry: terima kasih telah berbagi pengalaman di sini 🙂 hmm berarti bisa buka bisnis sendiri dong? kan sudha punya ilmunya? tinggal praktek toh?

  • mahira

    Kuliah menurutku adalah tempat utk mencari ijazah/title. Karena kalau mau cari ilmu bisa dimana aja kok asal ada kemauan tapi tanpa ijazah.sedangkan apakah anda mau cari ilmu dikampus bener …dapat ilmu tapi apa anda mau tanpa ijazah.

  • gun

    Mau sharing dan minta pendapat.
    Saya seorg lulusan S1 akuntansi. Setelah lulus, saya bekerja di salah satu bank bumn, dan telah 10 tahun smp dgn sekarang. Dan saat ini saya telah dipercaya sbg salah satu manejer lini pertama.
    Saat ini saya berencana akan mengambil program S2.
    Saya rasa pengalaman saya selama 10 tahun di dunia perbankan setidak nya telah membuat saya “sedikit” mengerti ttg manajerial manajemen perbankan. Menurut anda, jika saya lebih mendalami masuk ke pasca sarjana ilmu manajemen, apakah progrm studi ilmu manajemen ini akan banyak memberikan mamfaat positif bagi saya dibandungkan program studi magister manajemen untuk lebih memahami dunia kerja perbankan yg saya geluti saat ini pak?

    (Maaf.. saya memang awam dan kurang faham perbedaan antara yg dipelajari di master ilmu manajemen dgn magister manajemen.)

  • @mahira: setuju, ilmu bisa didapat diluar kampus. tapi ada juga ilmu yang hanya didapat jika kita berkuliah. misal critical thinking, analysis, networking dengan teman, dan lainnya

    @gun: akan lebih baik jika ditanyakan langsung ke fakultasnya. mungkin anda juga bisa membandingkan kurikulum dari kedua program tersebut. semoga berhasil ya

  • made artha jaya astawa

    yth sahabat tercinta

    apa komentar anda saya setuju saja krn hak azasinya namun demikian perlunya dlm bentuk menuangkan tulisan di media global net yg berupa masalah sendiri atau org lain hrs ada dukungan tingkat keterandalan akurasi data pendukung yg benar benar akurat dan valid sehingga saya sendiri dpt menganalisis secara obyektif dan sesungguhnya kebutuhan psndidikan jenjang s1 s2 s3 apalagi MM M.Si dsbnya itu ada yg merupakan jenjang pendidikan harus diadakan dan mengapa dibutuhkan dn diperlukan tentu hrs dg cara berpikir ILMIAH tdk bisa kita proses mau cara berpikir utk nyenengin diri sendiri utk menginformasi dan utk menjawabnya krn sangat rawann tingkat subyektifitasnya sangat tinggi utk itu mari kita pahami dan mengerti mengapa perlu s1 s2 s3 tentu ada aperbedaanya S1,S2 DAN S3 ….S1 mahasiswa mempelajari (satu atau lebih) metode, di S2 mahasiswa mengembangkan metode, sedangkan di S3 mahasiswa menghasikan metode (baru). Oleh karena itu, Tugas Akhir mahasiswa S1 adalah mengaplikasikan suatu metode untuk menyelesaikan sebuah persoalan, Tesis S2 mengembangkan metode yang spesifik agar dapat diaplikasikan untuk persoalan yang lebih luas, sedangkan disertasi S3 menghasilkan metode baru yang lebih baik daripada metode yang sudah ada sebelumnya.dg demikian titel MM ini dibutuhkan krn memang sangat diperlukan utk meningkatkan performance kiinerja pribadi seseorang menjajdi lebih baik dan profesional dibidangnya shg perusahaan dimana mereka bekerja selalu memberi pibrasi atau keuntaungan revenue yang lebih baik dan meningkat tks

    made artha jaya astawa

  • ari89

    MM itu program cari duit universitas diindonesia dalam universitas mengganti jurusan itu sesuatu yang sangat sulit dan tidak mungkin.. diluar negri sulit untuk mengganti jurusan.. bahkan mereka mengambil gelar msc atau msi yang jelas-jelas jurusan untuk mipa dan teknik informatika

  • “Tanpa kemampuan melakukan perubahan itu maka sebenarnya urgensi program MM juga tidak tinggi. “setelah menyandang gelar MM mereka toh tidak mampu melakukan perubahan apa-apa” pak, untuk melakukan perubahan bahkan tidak memerlukan s1

    untuk tau “bagaimana berpikir logis, analitis dan sistematis” No., ikut kursus seminar dan praktik saja sudah cukup gak usah kuliah s1. gak ada kurikulum ? lah itu s2 kurikulum dirasa bukan dari pemerintah apa ?

    tiap kebijakan pasti ada tujuan, kalau ada pihak yang menyalahgunakan kebijakan yang jangan semua nya disamaratakan.

  • catatan dahlam “Saya menyampaikan terus terang bahwa saya belum pernah melihat kurikulum di program MM. Saya juga tidak tahu komposisi antara pelajaran teoritis, studi kasus dan magangnya. Bahkan saya belum pernah melihat bagaimana bentuk ijazah MM itu. Kalau saja saya pernah melihatnya, maka saya akan langsung tahu bagaimana membuat hubungan yang akan terjadi.”

    “saya tidak tahu” kalau tidak tau ngapain banyak komen ..

    • pada paragraf selanjutnya dijelaskan tentang output program S1 yang diharapkan industri.
      nah, jika lulusan S2 outputnya juga mirip2, berarti urgensi merekrut S2 tidak tinggi.
      kira2 demikian yang saya tangkap dari artikel diatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.