Achmad Mardiansyah's Journal

manage your knowledge by writing it

Quality Management, siswa itu customer atau product?

without comments

siswa itu customer atau productSiswa itu customer atau product?. jadi ada sebuah diskusi menarik terkait dengan manajemen kualitas, dimana salah satu pasalnya adalah pendefinisian customer. siapa customer dari organisasi kita? dengan mengetahui customer kita akan lebih mudah menyusun rencana untuk meningkatkan kualitas, karena organisasi kita berorientasi pada customer. kalau customer happy, maka mereka pun akan kembali membeli produk kita lagi dan lagi.

kamus cambridge mendefinisikan customer adalah “a person who buys goods or a service”. sedangkan produk adalah sebuah hasil/luaran/output dari sebuah aktivitas (produksi).

bagi perusahaan manufaktur, definisi customer adalah mudah. persis seperti definisi kamus diatas. perusahaan manufaktur kan memproduksi barang, jadi orang/organisasi yang membeli barang/produk dari perusahaan tersebut akan disebut customer. mudah kan? namun bagi industri jasa terutama industri pendidikan (sekolah, universitas, dll), definisi customer sering rada tricky, tergantung pada perspektifnya (siswa itu customer atau produk?)

perspektif pertama melihat siswa/lulusan adalah sebuah produk (hasil dari sebuah kegiatan produksi belajar mengajar), dan industri/perusahaan adalah customernya (mereka adalah pengguna lulusan lembaga pendidikan). sebuah perspektif yang natural menurut saya. ya iyalah, orang kan sekolah, belajar, lulus, kemudian nyari kerja ke perusahaan toh?. tapi setelah dipikir-pikir ada kekurangan mendasar dari perpektif pertama ini. jika industri/perusahaan adalah customer, apakah mereka membayar ke lembaga pendidikan ketika mereka menggunakan lulusan? (kan sesuai dengan definisi customer diatas toh). pada kenyataannya, sekolah itu dapat pemasukan justru dari siswanya. loh? aneh ini, masa organisasi dapat pemasukan dari produk? harusnya kan dari customer? ngak masuk akal toh? untuk itu ada perspektif yang kedua..

pada perspektif yang kedua, siswa dianggap sebagai customer, dimana mareka akan membeli produk dari lembaga pendidikan (mata kuliah/program/sertifikasi). nah jika customer ini happy, mereka akan cerita kepada orang lain agar bersekolah di tempat dia dulu bersekolah. kenapa orang lain? karena pendidikan bukan seperti restoran yang customernya bisa RO (Repeat Order). jika siswa repeat order terus, ya kapan lulusnya? nah menurut saya perspektif kedua ini yang lebih pas deh. bagaimana dengan industri? mereka kan pengguna lulusan? iya, jadi sekolah perlu berorientasi industri agar customer bisa diterima oleh perusahaan.

bagaimana dengan sekolah yang meluluskan siswa tanpa mutu? terus terang sekolah yang seperti ini ada dimana-dimana, termasuk negara maju. mereka mengobral ijazah dengan mendapat sejumlah uang. untuk itulah di industri pendidikan ada yang namanya proses akreditasi, dan kalau tidak layak sekolah tersebut harus ditutup. tapi tetap saja kampus abal-abal masih selalu ada.

silahkan jika ada tanggapan…

Written by Achmad Mardiansyah

March 4th, 2016 at 4:58 am

Leave a Reply