Tuesday, January 16

Berkarir sebagai ahli dalam bidang networking

Jadi kali ini, ada siswa SMK TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) yang mendapat tugas dari sekolahnya untuk mewawancarai seorang network engineer agar lebih mengerti superti apa profesi tersebut. paling tidak dia punya gambaran jika Berkarir sebagai ahli dalam bidang networking:
– apa jobdescnya
– ngapain aja sehari2
– skill yang diperlukan
– bagaimana cara meningkatkan kemampuan
– bagaimana cara menjadi ahli dalam bidang tersebut

Agar lebih mudah dalam dokumentasi, saya meminta dia untuk merekam wawancara ini agar mudah diulang ketika diperlukan.

  • Q: Network engineer itu ngapain aja?
    A: Jawaban pertanyaan ini sudah ditulis dalam artikel ini.
  • Q: Bagaimana cara menjadi orang yang “ahli” dalam bidang networking?
    A: saya pun bertanya balik:
    – apa yang dimaksudkan dengan ahli?
    – siapa yang menjamin seseorang menjadi ahli? karena sekarang kan muncul ahli-ahli yang tidak jelas…
    nah si penanya pun bingung… hehehe
  • Tentang “ahli” dalam bidang computer network itu seperti apa?
    nah secara normatif menurut kamus bahasa indonesia, kata ahli artinya: orang yang mahir, menguasai, paham sekali dalam suatu ilmu; orang yang memiliki kemampuan dalam menelaah, menganalisis, menginterpretasi suatu ilmu.
    Issue utama adalah, dunia networking kan luas banget, teknologinya banyak, protocolnya banyak, RFC banyak, vendornya juga banyak dimana tiap vendor punya teknologi sendiri yang tidak kompatibel dengan vendor lain. nah kalau definisi yang dipakai adalah seperti diatas (normatif banget, belum ada definisi teknisnya), dengan demikian definisi ahli jaringan itu bisa beragam. tergantung siapa yang mendefinisikannya.
  • Bagaimana orang disebut ahli?
    Dari pengamatan penulis, orang menjadi ahli ada 2 cara (Berkarir sebagai ahli dalam bidang networking):

    • Melalui jalur formal
      Ini berarti sang “ahli” mengikuti proses ujian sertifikasi formal dari vendor-vendor produsen perangkat jaringan. misalnya Mikrotik, Cisco, Huawei, etc. Mikrotik / Cisco misalnya, membuat ujian sertifikasi yang bertingkat mulai dari level bawah sampai level advanced.
      Bagus sih, cuma ada kekurangannya, orang-orang ini hanya belajar untuk lulus ujian saja. sehingga ada tempat training yang membocorkan soal-soal agar siswanya lulus ujian. tidak jarang, pemegang sertifikasi masih gagap ketika melakukan konfigurasi perangkat.
    • Melalui jalur informal
      Ini berarti sang “ahli” mengikuti cara non-formal sehingga keahliannya diakui oleh orang. misalkan: sering mengerjakan project dan berhasil (battle proven lah), mempunyai networking yang luas sehingga dikenal orang banyak, aktif berkontribusi pada komunitas (bukan hanya minta tutorial), menulis publikasi yang berkualitas (jurnal, conference, buku, etc).
      Bagus sih, cuma ada kekurangannya juga. karena tidak pernah mengikuti training / sertifikasi formal (biasanya cuma belajar dari tutorial dari internet), kadang sang “ahli” ini melakukan konfigurasi yang tidak lazim (yang penting jalan kok hehehe), dimana ketika direview, ada banyak hal yang perlu diperbaiki disana.
  • oh begitu… dari 2 jalur diatas mana yang lebih baik?
    Kalau saran saya, sebaiknya punya keduanya. jadi sertifikasi formal punya, dan pengakuan dari komunitas pun ada.
  • Bagaimana dengan akademisi, apakah dapat menjadi ahli juga?
    tentu bisa dong. lihat aja jalur diatas. sebenernya ada banyak keuntungan ketika menjadi akademisi dalam bidang networking karena banyak membahas hal-hal yang terjadi dibalik teknologi (dari sisi teori atau konsep). Networking juga lahir dari wilayah akademik, teori-teori yang ada kemudian diimplementasikan dalam bentuk protocol dan konfigurasi. sehingga, engineer cuma tinggal pencet tombol/ ketik command agar feature tersebut aktif.

sekian, semoga berguna bagi pembaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *